8 Pertanyaan Unfaedah Saat Kumpul Lebaran

Pertanyaan Unfaedah
8 Pertanyaan Unfaedah Saat Kumpul Lebaran

Suasana Lebaran identik dengan bersilaturahmi, bermaaf-maafan, makan-makan, dan reuni. Saudara, kerabat, dan teman lama yang sudah sekian lama tak tahu beritanya, akhirnya bisa bertemu di momen yang membahagiakan ini. Pasti kita ingin tahu aktivitas mereka sekarang, apa yang telah mereka miliki atau capai selama ini, dan juga perubahan apa yang telah mereka alami. Acara ngobrol-ngobrol pun menjadi meriah, terlebih jika membicarakan nostalgia masa lalu saat kanak-kanak, bersekolah dan bermain bersama.

Namun kadang berkumpul bersama keluarga dan teman ini juga menjadi momen yang ‘menakutkan’ bagi sebagian orang, sehingga ada yang lebih memilih untuk menghindarinya. Tak lain, karena seringkali topik pembicaraan itu melenceng dan menyentuh hal-hal sensitif yang tidak mengenakkan atau menyinggung perasaan orang tertentu. Nah, agar hal-hal negatif ini tidak mengurangi keceriaan acara kumpul-kumpul, ada baiknya kita mengetahui 8 pertanyaan unfaedah yang sebaiknya dihindari saat kumpul Lebaran.

  1. Kapan menikah? Ini pertanyaan standar yang kadang terpaksa ditelan oleh anggota keluarga atau teman yang masih berstatus single alias jomblo. Kalau baru sekali Lebaran ditanya pertanyaan ini, mungkin masih bisa menjawab sambil tersenyum dan bercanda-canda. Tapi kalau tiga kali Lebaran ternyata masih jomblo juga, sudah pasti si pemilik status akan mengalami tekanan batin saat hendak kumpul Lebaran, membayangkan pertanyaan yang sama bakal muncul lagi.
    Nah, di sinilah diperlukan empati dari anggota keluarga lain yang sudah berstatus double atau menikah. Bahwa, urusan jodoh adalah urusan Tuhan. Meskipun sudah berusaha dan punya pacar pun, kadang belum pasti kapan akan menikah. Lagipula menikah atau tidak menikah adalah masalah privat seseorang yang tidak sepantasnya menjadi olok-olok atau bahan sindiran.
  2. Kapan punya anak? Pertanyaan ‘Anakmu berapa sekarang?’ biasanya sudah menjadi kelaziman untuk ditanyakan ketika bertemu sahabat lama. Ini umum ditanyakan di wilayah Jawa. Pertanyaan ini lebih ditujukan sebagai rasa keingintahuan saja, dan untuk bangga-banggan, karena sebagian orang berprinsip ‘banyak anak, banyak rezeki’.
    Namun pertanyaan ‘Kapan punya anak?’ lebih terasa menyudutkan dan menyakitkan bagi pasangan yang kebetulan belum dikaruniai anak, karena menyiratkan bahwa mereka tidak bisa atau tidak subur. Padahal bisa jadi pasangan itu memang tidak mau atau ingin menunda punya anak. Kalaupun memang ada problem kesuburan, ini kesempatan bagi orang lain untuk menunjukkan dukungan agar pasangan tersebut tetap santai dan semangat.
  3. Kapan lulus kuliah? Kalau pertanyaan ini berkait dengan harapan bahwa kalau sudah lulus, yang ditanya tadi bakal diajak membantu atau bekerja di perusahaan si penanya sih, bagus sekali. Bisa menjadi motivasi yang ditanya untuk segera lulus. Tapi kalau pertanyaannya disambung dengan ‘Masa sih kuliah gitu aja nggak lulus-lulus?’ atau ‘Bukannya Lebaran tahun kemarin kamu lagi bikin skripsi? Belum selesai juga?’. Wah, ini sih bukannya ngajak bermaaf-maafan tapi malah ngajak perang.
  4. Belum kerja juga? Ini beda dengan pertanyaan ‘Kerja di mana?’ Di pertanyaan terakhir ini mungkin si penanya memang ingin tahu bidang pekerjaan orang yang ditanya. Siapa tahu bisa menjalin bisnis atau ada yang bisa dikerjasamakan. Ini juga mesti hati-hati menjawabnya. Ada orang yang menganggap remeh jika kita menjawab ‘serabutan aja’ atau ‘wiraswasta’. Jadi ada baiknya menjawab dengan ‘saya jadi manajer di perusahaan x’ atau ‘Saya punya bisnis sendiri yang berkaitan dengan produk y. Siapa tau kita bisa kerja sama’.
    Tapi pertanyaan ‘Belum kerja juga?’ lebih nyelekit dan berkesan menghina. Dalam kondisi masih pandemi dan banyak bisnis yang tumbang dan para karyawanya banyak yang di-PHK, mencari pekerjaan formal bukanlah hal yang mudah. Pertanyaan seperti ini seperti menyirami luka dengan air garam.
  5. Koq kamu nggak kayak dia? Ini juga big no-no, membanding-bandingkan antar-anak atau antar-kerabat. Entah dari segi pekerjaan, jabatan, atau kekayaan. Kadang juga membandingkan karakter atau jumlah anak-anak yang dimiliki. Setiap orang mempunyai jalan hidup dan rezekinya sendiri-sendiri, meski berasal dari keluarga yang sama, berpendidikan sama, atau pintarnya sama. Rezeki adalah pemberian dari Yang Maha Memberi. Begitu juga sifat dan karakter, dibentuk oleh perjalanan hidup yang tiap-tiap orang berbeda. Tidak sepatutnya orang membanding-bandingkan nasib dan rezeki seseorang dengan orang lainnya dengan tujuan menganggap orang lain itu sukses sementara yang satunya tidak sukses, malas, atau gagal.
  6. Kapan kamu mau bayar utang? Dalam sebuah keluarga besar, wajar bila ada anggota keluarga yang mungkin tertimpa musibah dan terpaksa berutang ke saudaranya, dan mungkin sampai Lebaran tiba belum bisa melunasi. Ada baiknya si pemberi utang menanyakannya secara pribadi, misalnya lewat pesan whatsapp. Menanyakan piutang di saat kumpul acara keluarga hanya akan mempermalukan si pengutang dan membuatnya kapok untuk berkumpul Lebaran lagi.
  7. Pemilu kemarin milih siapa? Nah ini, pertanyaan yang juga sangat potensial membuat acara kumpul Lebaran menjadi ambyar. Masalah politik, diakui atau tidak, menjadi makin sensitif di era sosial media seperti sekarang ini. Terlebih dengan adanya pihak-pihak yang suka memanas-manasi atau melabeli pihak lain dengan sebutan yang tidak etis. Padahal pilihan politik adalah hak setiap warganegara dan tidak perlu dipertentangkan. Dengan cuma ada dua kandidat dan peluang menangnya 50:50, sudah pasti dari sekian banyak anggota keluarga ada yang memilih si A atau si B. Mengkritik atau mempertanyakan pilihan terhadap salah satu calon hanya akan memicu pembelahan keluarga.
  8. Sekarang kamu gemuk banget ya? Dulu, wanita yang makin gemuk setelah menikah dianggap punya kehidupan keluarga yang makmur dan bahagia. Sekarang tidak lagi. Ini malah menjadi masalah yang makin sensitif bagi kaum wanita. Bahkan kata ‘gemuk’ apalagi ‘gendut’ bisa dianggap penghinaan fisik atau body shaming. Jujur saja, wanita ingin selalu dipuji sebagai ‘langsing‘ dan ‘cantik‘ meski kenyataannya mungkin hanya mendekati demikian. Pertanyaan ’Koq kamu kurusan ya?‘ malah lebih mending karena yang ditanya biasanya bisa ngeles bahwa dia sedang menjalani diet ini atau itu.

Dengan menghindari 8 pertanyaan unfaedah di atas, semoga acara kumpul-kumpul keluarga saat Lebaran bisa menjadi ajang nostalgia, canda tawa, dan saling menyemangati sesama, bukan malah membuat anggota keluarga tertentu menjadi baper dan sakit hati. Jangan lupa, manfaatkan layanan rental mobil TRAC untuk mendukung acara silaturahmi, halal bihalal dan reuni bersama kerabat dan teman-teman di masa pandemi Covid-19 ini. TRAC dengan konsisten menerapkan SMART Protocol sebagai protokol kesehatan dan keselamatan selama melayani Anda. SMART Protocol meliputi beberapa hal berikut ini:

  • Melakukan penyemprotan disinfektan ke semua unit yang akan bertugas maupun setelah melayani pelanggan
  • Menyediakan hand sanitizer di semua unit yang bertugas melayani pelanggan
  • Menerapkan social distancing di seluruh unit yang mengangkut pelanggan
  • Memberikan sekat pembatas antara driver dengan pelanggan
  • Setiap driver yang bertugas akan melalui proses pengecekan kesehatan
  • Setiap driver yang bertugas diwajibkan menggunakan masker dan sarung tangan
  • Driver tidak diperkenankan melakukan kontak fisik apapun kepada pelanggan

Untuk mengetahui lebih lanjut layanan rental mobil prima dari TRAC, Anda dapat menghubungi Customer Assistance Center di 1500009 atau mengirimkan email ke rco.nasional@trac.astra.co.id. Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi TRACtoGo di Google Playstore maupun di Apple App Store untuk melakukan reservasi. Di aplikasi keren ini Anda akan mendapatkan berbagai penawaran menarik dan promo yang sayang untuk dilewatkan.

Give a comment

You must logged in to give a comment.