Tak Perlu Pergi Jauh, Ini 7 Kuliner Imlek di Sekitar Bintaro

Berburu Kuliner Imlek di Bintaro dan Sekitarnya
Perayaan Imlek tak lengkap tanpa kuliner khas nya/ source: freepik

Imlek, Sin Cia, Chinese New Year, Lebaran Cina atau apapun sebutannya selalu membuat Saya merasa bersemangat, setidaknya untuk jajan makanan khas Tionghoa dan peranakan. Tahun ini, Saya tak akan melangkahkan kaki terlalu jauh, karena ternyata berwisata kuliner Imlek di Bintaro dan sekitarnya pun bisa memuaskan hasrat jajan yang membara.

Berbekal buku “Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara” yang ditulis mendiang Aji ‘Chen’ Bromokusumo akhirnya saya menyusun niat untuk masuk-keluar pasar dan tentunya menjelajahi beberapa sudut Bintaro dan sisi-sisi sekitarnya mencari kuliner khas Imlek.

Berikut 7 Kuliner Imlek yang ada di sekitar Bintaro

1.      Kue Keranjang, makanan paling ikonik saat Imlek

Berburu Kuliner Imlek, Kue Keranjang
Kue Keranjang di salah satu gerai di Pasar 8 Alam Sutera, kuliner wajib saat Imlek

Ibarat ketupat dan lebaran, Imlek pun tak lengkap rasanya tanpa kue keranjang. Meski terlihat sangat sederhana, makanan serupa dodol ini memiliki makna dan filosofi yang dalam. Tak hanya menyimpan harapan tahun depan yang manis, teksturnya yang lengket juga membawa doa agar keluarga yang memakannya akan terus bersatu. Dalam perayaan Imlek, kue keranjang biasanya ditampilkan dengan cara disusun 3, 4 atau 5 dengan makna pencapaian yang semakin tinggi.

Terbilang mudah untuk menemukan kue keranjang di sekitar Bintaro. Menjelang Imlek, Kue Keranjang bisa ditemukan supermarket hingga lapak penjual kue basah di pasar. Mau yang besar atau kecil? Dibungkus daun atau dikemas dengan kotak cantik? Bintarians bisa memilihnya sesuai dengan selera dan tentunya kondisi kantong.

2.      Yu Sheng/Yee Sang, bukan ‘salad’ biasa

Berburu Kuliner Imlek, Yu Sheng
Yu Sheng, ‘salad’ istimewa untuk hari yang istimewa/ Source: dintaifung.co.id

Dibandingkan dengan kuliner Imlek lainnya, bisa dibilang hidangan ini baru hits di Indonesia pada beberapa tahun belakangan. Mengutip dari buku “Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara”, secara harfiah Yu Sheng memiliki arti Ikan Segar dalam dialek Tio Ciu. Bunyi pelafalannya sama dengan kata remaining dan increase yang secara bebas bisa bermakna selalu ada kelebihan (rezeki) dan meningkatnya karier dan bisnis.

Sesuai namanya, hidangan ini berbahan ikan segar yang disajikan dengan berbagai macam sayuran yang dirajang halus lengkap dengan beberapa taburan dan saus. Jangan kaget melihat porsinya, karena ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Berbagai mantra dan harapan dikumandangkan saat ritual mencampur Yu Sheng atau lou hei.

Tak banyak restoran di Bintaro yang menawarkan Yu Sheng namun jika terlanjur penasaran dengan hidangan ini, Bintarians bisa merapat ke beberapa restoran keluarga yang ada di Kawasan BSD, Serpong dan Alam Sutra. Jaringan resto Din Tai Fung dan The Duck King bisa menjadi alternatif. Jangan lupa untuk mengangkat Yu Sheng tinggi-tinggi dan rasakan euforianya!

3.      Jiaozi, makan ‘uang’ saat imlek

Berburu Kuliner Imlek, Jiaozi
Jiaozi dari Long Feng Tang, layak masuk menu Imlek bersama keluarga

Dari sekian banyak jenis dim sum/dumplings, Jiaozi menjadi ikon pada perayaan Imlek. Dumpling berbentuk bulan sabit ini sering diidentikkan dengan bentuk uang lampau di dataran Tiongkok. Bintarians pasti sudah bisa menerka makna di balik hidangan ini. Yup! Selain diharapkan bisa mendatangkan kemakmuran, membuat dan menyantap Jiaozi bersama keluarga juga melambangkan kebersamaan.

Bintarians bisa menemukan Jiaozi di restoran yang menjual dim sum atau kuliner khas negeri tirai bambu. Untuk Imlek kali ini, Saya merekomendasikan Jiaozi dari Long Feng Tang, restoran Tiongkok muslim yang ada di kawasan Bintaro Utama 3A. Jangan tertipu dengan bentuknya yang sederhana karena rasanya tetap bisa menggoyang lidah.

4.      Lapis Legit, kue rasa Belanda yang harus ada saat Imlek

Berburu Kuliner Imlek, Lapis Legit
Berkah berlapis dalam sepotong kue lapis di hari Imlek/ source: @kuelapisibuku

Kue yang dikenal juga dengan Spekkoek/Spekuk sebenarnya bukan kue tradisional Tiongkok namun telah memiliki tempat tersendiri pada perayaan Imlek di Indonesia. Semakin banyak lapisan pada kue ini, dipercaya akan semakin bertumpuk pula rezeki yang didapatkan.

Kue ini mungkin terlihat sederhana, tapi ternyata punya kesulitan tersendiri dalam pembuatannya. Bayangkan, meski tak ada pakem untuk jumlah lapisannya namun secara tradisional umumnya lapis legit setidaknya memiliki 18 lapisan.  Tak heran untuk kelas premium, satu loyang lapis legit bisa dibanderol hingga ratusan ribu rupiah.

Untuk hari istimewa ini, Lapis legit Ibuku bisa menjadi pilihan Bintarians untuk menjadi teman minum teh sambal bercengkrama dengan orang-orang tercinta. Lapis legit produksi Bintaro ini juga cocok untuk jadi hantaran lho!

5.      Kue Mangkok, Kue Ku dan Kue Basah lainnya jadi bukti akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia

Berburu Kuliner Imlek, Kue Mangkok
Tak perlu menunggu imlek, jajanan pasar selalu mudah ditemukan

Warna merah dari Kue Mangkok dan Kue Ku tentu tak boleh terlewat saat merayakan Imlek. Kue Mangkok yang tampil mekar melambangkan rejeki yang berkembang, kue ini biasanya diletakkan di puncak susunan kue keranjang. Tak kalah filosofis, bentuk kura-kura dari Kue Ku memiliki arti panjang umur. Selain dua kue tersebut ada pula kue-kue tradisional Indonesia yang juga ‘tampil’ dalam perayaan Imlek, seperti; nagasari, kue bugis, madu mongso dan banyak lainnya.

Sebenarnya tak perlu menunggu Sin Cia untuk membeli kue-kue ini, Bintarians bisa menemukannya sepanjang tahun bahkan di beberapa jaringan toko kue modern. Saya sendiri lebih suka membelinya di penjual kue yang ada di pasar, seperti saat mampir ke Pasar Bintaro Sektor II, Fresh Market Bintaro maupun Pasar 8 di Alam Sutera.

Belanja Praktis Sambil Nongkrong di Fresh Market Bintaro

6.      Aneka Manisan, agar manisnya Imlek nggak putus

Berburu Kuliner Imlek, Aneka Manisan
Mau paket atau pilih sendiri? Manisan harus selalu tersaji saat Imlek/ Source: pressfoto-freepik

Manisan saat Imlek biasanya disajikan di nampan khusus, biasanya berbentuk segi delapan oleh karena itu dikenal juga dengan manisan segi delapan. Pada kepercayaan masyarakat Tionghoa, angka 8 melambangkan sesuatu yang tak putus. Manisan dan permen yang diletakkan di nampan segi delapan menyimpan makna ‘manis’ yang datang terus-menerus sepanjang tahun.

Bintarians bisa membeli berbagai jenis manisan dan gula-gula khas Tiongkok di supermarket yang ada di Bintaro dan sekitarnya seperti; Hari-hari Swalayan atau jaringan supermarket internasional. Beberapa toko kue juga menjual paket manisan segi 8 menjelang Imlek. Tak mau monoton? Bintarians juga bisa menata sendiri manisan dan permen yang diinginkan terutama jika sudah memiliki nampan unik yang bisa dipajang.

7.      Jeruk, buah primadona yang selalu ada setiap saat

Berburu Kuliner Imlek, Jeruk
Primadona Imlek yang selalu ada setiap saat/ Source: Jcomp-freepik

Buah yang satu ini tentu sudah tak asing lagi. Dalam bahasa Mandarin, kata Jeruk memiliki pelafalan yang mirip dengan kata ‘keberuntungan’. Dalam dialek Kanton, jeruk memiliki pengucapan yang mirip dengan kata emas.  Wah, sungguh buah pembawa berkah!

Bintarians bisa menemukan semua gerai supermarket menjual aneka jeruk dengan warna oranye yang mengoda dalam aneka ukuran saat menjelang Imlek. Beberapa gerai buah musiman yang ada di tepi jalan pun tak mau kalah untuk memajang gunungan jeruk mandarin, shantang, ponkam dan lainnya. salah satu tempat belanja favorit Saya adalah adalah gerai buah yang terletak tak jauh dari Masjid Jami Bintaro Jaya.

Selain 7 makanan di atas, sebenarnya masih banyak lagi hidangan Imlek yang tak hanya lezat namun juga memiliki nilai filosofis yang dalam, seperti; Ikan Bandeng, Sup 8 bentuk, Ca Rebung, mie, dan banyak lainnya. Kira-kira kuliner Imlek mana yang mau Bintarians cicip terlebih dahulu?

Give a comment

You must logged in to give a comment.