Tekad Besar Andhini Miranda Suara Sampah Menjalani Hidup Minim Sampah

Suara Sampah
Andhini Miranda Suara Sampah Menjalani Hidup Minim Sampah

Suara Sampah Tekad Andhini Miranda Jalani Hidup Minim Sampah, Baik sampah organik maupun non-organik, Komitmen yang kuat memang diperlukan untuk memulai suatu perubahan.

Komitmen yang kuat memang diperlukan untuk memulai suatu perubahan. Walaupun perubahan yang dilakukan tergolong kecil, namun bila dilakukan secara terus menerus, pasti akan menghasilkan dampak yang nyata. Contohnya ialah apa yang dilakukan oleh Andhini Miranda, seorang praktisi hidup minim sampah, yang telah melakukan manajemen sampah rumah tangga dan dalam kehidupan sehari-hari sejak tahun 2012.

Ia bersama keluarganya telah berusaha kuat untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tidak hanya bagi lingkungan sekitar, namun juga untuk alam. Sampah plastik telah ada sejak dari tahun 1950an dan masih ada hingga kini. 

Suara Sampah Berawal Dari Barang Kualitas Rendah, Kemudian Jadi Sampah

Andhini Miranda Suara Sampah

Secara global yang berhasil di daur ulang baru mencapai 9 persen, berarti ada 91 persen yang tersisa dan itu masih ada sampai sekarang serta terus bertambah dengan sampah plastik baru. Plastik setiap kali didaur ulang, bakal menjadi produk kualitas rendah, dan akhirnya hanya akan menjadi sampah.

Andhini pun bersemangat dalam memaparkan sejumlah langkah untuk mencegah, memilah, dan mengolah sampah kepada BnB. Hal pertama yang dapat Bintarians adalah mencegah sampah. 

“Langkah ini diawali dengan menolak produk dan kemasan yang bermaterial plastik sekali pakai, serta material lain yang bersifat sekali pakai ketika sedang berbelanja. Kita bisa menggunakan tas kain atau wadah lain yang nantinya bisa digunakan kembali. Sama halnya ketika sedang ingin membeli makanan jadi untuk dibawa pulang, kita dapat memakai tempat makanan pribadi maupun rantang,” kata Andhini.

Membawa minum sendiri dan peralatan makan pribadi juga menjadi solusi untuk mencegah timbulnya sampah dalam kehidupan sehari-hari. “Mungkin terdengar merepotkan ya, apalagi ketika bepergian harus membawa segala peralatan makan. Pastikan semua peralatan makan tersebut terbuat dari material non plastik yang aman untuk digunakan sebagai wadah makanan dan minuman” tambah Andhini, seraya membeli sepotong pizza dan meletakkannya di piring makan yang ia bawa sendiri dari rumah.

Membeli Barang yang Dibutuhkan, Bukan Membeli Sampah

Suara Sampah
Membawa minum sendiri dan peralatan makan pribadi menjadi solusi untuk mencegah timbulnya sampah dalam kehidupan sehari-hari

Tidak membeli sesuatu yang tidak perlu juga menjadi hal yang penting untuk diterapkan. Jadi, sebelum membeli suatu barang, Bintarians harus memikirkan secara matang, sehingga barang yang dibeli nantinya jangan sampai menjadi sampah di rumah. Selanjutnya ialah pemilahan sampah di rumah, dengan membagi tempat sampah berdasarkan kategorinya. Cara ini juga bagian dari upaya mengenalkan jenis sampah kepada kalangan anak sedini mungkin.

Tempat sampah berdasarkan kategori dibagi menjadi sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), sampah kertas dan kardus, sampah kompos, dan sampah lain-lain. Sampah dipisahkan menjadi tiga kategori besar: sampah organik, sampah non-organik, sampah residu (sampah non-organik yang tidak bisa didaur-ulang). Baik sampah organik maupun non-organik dipilah-pilah lagi. Untuk sampah non-organik dipilah menjadi sampah kertas, kardus, plastik, kaca, logam, elektronik dan medis. Sampah elektronik dan sampah medis termasuk dalam kategori sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).

“Supaya tidak ada sampah di rumah, kita menolak barang yang dapat berpotensi menjadi sampah sejak awal, seperti sedotan, botol plastik sekali pakai masuk ke dalam rumah. Jika terlanjur menghasilkan sampah, pastikan sampah kemasan plastik, kertas dan kardus dalam kondisi kering dan bersih dari sisa makanan sebelum dimasukkan ke dalam kotak pilah sampah” papar Andhini.

Pisahkan Sampah dan Lihat Mana yang Bisa Digunakan Lagi

Selalu gunakan wadah pilah sampah, tidak perlu beli baru, siapkan saja beberapa boks kardus bekas dengan ukuran cukup besar dan diberi tanda atau label. Hal ini guna mempermudah pemilahan sampah. Mulai dari sampah plastik, sampah kertas, sampah karton, sampah logam, hingga sampah elektronik dan sampah B3  medis. Setelah dipilah, lihat mana yang masih bisa digunakan lagi, dan mana yang tidak. Jika masih bisa digunakan lagi, jangan ragu untuk menggunakannya berulang kali. Jika sudah tidak bisa digunakan, setor ke pelaku daur-ulang kredibel untuk dikelola.

Khusus untuk sampah makanan, sisa bahan makanan, seperti kulit buah atau sayuran yang tidak terpakai, jangan langsung dibuang. Karena bisa terurai saat diolah menjadi kompos dan nantinya berguna sebagai pupuk. Sedangkan untuk sampah organik, jangan langsung dibuang ke tempat sampah, karena bisa melepaskan gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global. Sampah organik bisa dikelola secara mandiri di rumah. Antara lain, bisa diolah menjadi makanan atau minuman yang layak konsumsi, lalu kulit buah dan sayuran yang tidak terpakai bisa diolah menjadi cairan pembersih serba-guna yang disebut eco-enzyme. 

Contoh lain, biji cabai dan tomat bisa Bintarians tanam. Lalu batang sayuran bisa ditumbuhkan kembali menjadi tanaman. Untuk sampah organik yang tidak bisa diolah, dapat dijadikan kompos dan nantinya bisa berguna menjadi pupuk.

“Menjalani hidup yang ramah lingkungan dengan menerapkan langkah minim sampah, sebenarnya bukan untuk bumi saja, namun juga untuk diri kita sendiri. Dengan mencegah timbulnya sampah, khususnya sampah plastik, sebenarnya kita meredam dampak kerusakan lingkungan terhadap diri kita,” pungkas Andhini. Untuk lebih mengetahui aktivitas minim sampah Andhini Miranda, Bintarians dapat mengunjungi akun Instagram: @021suarasampah. Semoga pengaruh positif Andhini Miranda dapat menginspirasi Bintarians ya! Salam lingkungan.

Give a comment

You must logged in to give a comment.